CINTA ALLOH DAN ROSUL MUHAMMAD SOLLALLOHU ALAIHI WA SALLAM
Oleh : Toha Ahmad Muhammad Yasin
Majan, Jum’at 8 Pebruari 2019
Hari itu sengaja aku mengunjungi di tempat kelahiran ibuku. Tempat aku diasuh kakek nenekku kala balita. Setelah sekian lama kutinggalkan demi merangkai cita.
Terbayang kenangan indah penuh manja dalam asuhan kakek dan nenek tak terlupa. Awalnya mungkin ayah ibuku terpaksa menitipkan aku, karena belum genab dua tahun Alloh menganugrahkan adik untukku. Tapi kemudian menjadi tradisi, hampir semua saudaraku merasakan asuhan dan pendidikan dari kakek-nenekku. Kata paman-pamanku, Akulah cucu tersayang diantara cucu cucu bani Dimyati.
Pukul 11.30 terdengar bedug bertalu berirama mengiringi tarhim yang disenandungkan muroqi. Sebagai penanda waktu sholat jum’at sudah akan dimulai. Nadanya khas, nada itu tak berubah sejak aku balita hingga kini, mengingatkanku masa kanak kanak. Terngiang di telinga merasuk di dalam kalbu, berbalut makna indah tarhim yang sahdu,
الصلاة والسلام عليك
يا امام المجاهدين يا رسول الله
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ imâmal mujâhidîn yâ Rasûlallâh
“Shalawat dan salam kepadamu
duhai pemimpin para pejuang (mujahidin), duhai Rasulullah…”
الصلاة والسلام عليك
يا نا صرالهدى يا خير خلق الله
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ nâshiral hudâ yâ khayra khalqillâh
“Shalawat dan salam kepadamu
duhai penuntun petunjuk Ilahi, duhai makhluk Allah yang terbaik”
الصلاة والسلام عليك
يا ناصر الحق يا رسول الله
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ nâshiral haqqi yâ Rasûlallâh
“Shalawat dan salam kepadamu
duhai penolong kebenaran, duhai utusan Allah (duhai Rasulullah)…”
الصلاة والسلام عليك
يامن اسرى بك المهيمن ليلا نلت ما نلت والانام نيام
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ Man asrâ bikal muhayminu laylan nilta mâ nilta wal-anâmu niyâmu
“Shalawat dan salam kepadamu
duhai yang memperjalankanmu di malam hari, Dialah Yang Maha Melindungi, engkau memperoleh apa yang kau peroleh sementara manusia tidur,
وتقدمت للصلاة فصلى كل من في السماء وانت الامام
والي المنتهى رفعت كريما
وسمعت النداء عليك السلام
Wa taqaddamta lish-shalâti fashallâ kulu man fis-samâi wa antal imâmu
Wa ilal muntahâ rufi’ta karîman
Wa ilal muntahâ rufi’ta karîman wa sai’tan nidâ ‘alaykas salâm
“Semua penghuni langit shalat di belakangmu dan engkau menjadi Imam,
engkau diberangkatkan ke Sidratul Muntahaa karena kemuliaanmu,
dan engkau mendengar ucapan salam atasmu”
يا كريم الاخلاق يا رسول الله
صلي الله عليك وعلي اليك واصحابك اجمعين
Yâ karîmal akhlâq yâ Rasûlallâh
Shallallâhu ‘alayka wa ‘alâ âlika wa ashhâbika ajma’în
“Duhai … yang paling mulia akhlaknya, duhai Rasulullah…
Shalawat Allah semoga tercurah atasmu, atas keluargamu, dan atas sahabatmu seluruhnya”
“Amboi …!”,ingin rasanya mengulang masa kanak-kanakku, masa penuh kasih,
Kala belajar ngaji di surau, di malam penuh berkah, kuukir huruf demi huruf dengan guru guru yang telaten dan sabar.
Wawu lam sin siddah fatkhah was, sin fatkhah sa, lam fatkhah la, mim dzummah mu, wassalamu.
Itulah bacaan yang kuingat saat ngaji ‘turutan’ Al Bagdadi. Guru ngaji yang juga paman dan bibiku tak lupa menyisipkan cerita tentang keteladanan ‘Nabi’ dan diakhiri dengan lantunan syair yang menambah kecintaan dan kerinduan pada sosok Rosululloh khotamin nabiyyin ‘Syayyidina Muhammad Shollallohu alahi wa sallam’.
Sholli wa sallim daiman ala ahmada, Sholli wa sallim daiman ala ahmada
Wal ali wal ashhabi man qod wahada, Wal ali wal ashhabi man qod wahada
Aku bocah cilik jejer tarik tarik
Sandanganku resik kelakuanku becik
Islam agamaku Alloh pengeranku
Muhammad nabi Al qur’an kitabku
Sholat limang wektu iku rukun wajib
Isya’ subuh dluhur, asar lan maghrib
Ketika lampu penerangan tiba-tiba mati di tengah pembelajaran qur’an, secara sepontan semua santri melantunkan syair :
Isro’ mi’roj Muhammad
Nabi yang membawa rohmmad
Nabi pemimpin ummat
Di dunia dan akhirat
Nabi Muhammad khotamin nabiyin
Pecinta fakir dan miskin
Penyayang anak yang yatim
Pelarang orang yang dholim
Wahai kawan semua orang
Rajin rajinlah sembahyang
Bila insan tak sembahyang
Pasti masuk ke jahannam
Syair ini kita senandungkan sampai lampu menyala kembali, dan pembelajaran qur’an pun dilanjutkan. Ada tiga maksud – tujuan, ketika dalam gelap bersenandung,
Pertama hal itu sengaja diajarkan oleh guru, agar santri tidak kacau bahkan bubar karena sebagian besar santri kecil takut pada keadaan gelap.
Kedua, syair yang disenandungkan mudah dihafal, sehingga dalam keadaan gelappun bisa dilantunkan. Hal ini juga dimaksud agar santri tetap tenang di dalam gelap, terhindar dari aktivitas yang tidak bermanfaat dan mencegah keinginan menggangu sesama teman.
Ketiga, bait-bait syair mengandung pelajaran dan motivasi untuk meneladani dan mengikuti ajaran Rosulillah.
Sungguh masa kanak kanak yang tak ternilai, menambah rasa syukur yang tak terhingga pada Alloh Ta’ala karena aku dikaruniai orang tua yang super luar biasa, ayah ibu, kakek nenek, paman bibi, yang tidak hanya penuh kasih sayang, tapi juga perhatian dan telaten mengajarkan ibadah dan kecintaan kepada Sang Kholiq dan rosululloh Muhammad Shollallohu alaihi wa sallam.
Kakekku juga orang istimewa,
Kakekku bernama Dimyati, putra dari Kyai Kaprawi, cucu dari Kyai Yusuf. Lahir di jaman penjajahan yang mensyaratkan beliau menempa diri dengan ilmu agama sekaligus ilmu bela diri. Ilmu natural sekaligus supra natural. Ilmu fisik maupun metafisik.
Beliau adalah kakek sekaligus guru bagiku, yang turut membangun pondasi agamaku,
Beliau adalah guru agama sekaligus guru ilmu bela diri.
Beliaulah yang memotivasi aku untuk semangat belajar ilmu agama, ilmu Alloh yang tak bertepi. Tidak ada kata pensiun, tidak ada kata libur. Sampai jasad harus terpisah dengan ruh.
Bersama beliau aku belajar prilaku keseharian dari masalah sholat sampai sopan santun, dari masalah puasa sampai cara buang hajat.
Dan melalui beliau aku mengenal dimensi kehidupan lain di luar kehidupan manusia.
Beliau mengajari aku berkasih sayang
Setiap kali menyambut para cucu, beliau bentangkan kedua tangannya untuk memeluk, mencium dan tak ketinggalan menempelkan jambang berambut kasar ke pipi, yang membuat aku merasa geli.
Teringat kisah baginda Rosul, ketika mencium cucu beliau Syayid Hasan dan Syayid Husain, ada seorang sahabat berkata,”Ya Rosul saya tidak pernah mencium anak anak saya”. Maka rosulpun menjawab,”Tidak disayangi orang yang tidak menyayangi”.
Pernah aku bertengkar dengan teman sepermaian ditengah kebanggaan memiliki jurus bela diri yang juga diajarkan kakekku. Beliau datang mendamaikan. Dengan berpesan,
”Wong menang yo iku wong sing gak tukaran”. (Pemenang yaitu orang yang tidak pernah bertengkar).
Ilmu bela diri tidak ditujukan untuk mencari lawan, tapi justru untuk menjaga persahabatan dan perdamaian. Kemampuan olah kanuragan seharusnya memupuk rasa kasih sayang, bukan melahirkan kesombongan.
Dalam keadaan ekonomi yang pas-pasan kakek Dimyati, tetap berusaha bisa berbagi dengan orang yang membutuhkan. Beliau tak pernah menolak setiap peminta yang datang. Tanpa melihat siapa yang minta. Apakah dia seorang renta yang tak mungkin bekerja, atau pemuda gagah, entah karna apa dia meminta. Pesan beliau ..
Tugas kita memberi, tanpa mempermasalahkan siapa dan akan digunakan apa pemberian kita itu.
Memberikan sebagaian harta kita adalah tanda ketaqwaan sebagaimana firman Alloh subhanahu wa ta’ala dalam surat al Baqoroh ayat 1 sampai 3 :
{الم (1) ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ (3)} [البقرة : 1-3]
- Alif laam miin
- Kitab(Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,
- (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki(16) yang Kami anugerahkan kepada mereka.
.[16] Rezki: segala yang dapat diambil manfaatnya. menafkahkan sebagian rezki, ialah memberikan sebagian dari harta yang telah direzkikan oleh Tuhan kepada orang-orang yang disyari’atkan oleh agama memberinya, seperti orang-orang fakir, orang-orang miskin, kaum kerabat, anak-anak yatim dan lain-lain.
Di surat Ali Imron 134, Alloh juga berfirman :
{الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ} [آل عمران : 134]
- (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, …..
Aku juga dibiasakan untuk menghormati sesama, memanggil kakak dan mencium tangan pada yang lebih tua, memanggil adik, memeluk atau mengusap kepala untuk yang lebih muda..
Kasih sayang kakek, juga ditunjukkan dengan menjadi pendengar yang baik. Pernah aku melihat nenek mengulang ulang cerita yang sama, bahkan sehari bisa sampai sepuluh kali. Luar biasa, kakek dengan setia mendengarkan dan menanggapinya, walau sudah didengar untuk yang kesepuluh kalinya, seolah baru pertama kali mendengar. Mungkin ini diantara resep, hingga empat tahun saya dalam asuhan kakek nenek, sekalipun belum pernah tahu ada pertengkaran antara mereka.
Kiranya kakek nenekku pantas mengatakan apa yang pernah disabdakan Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam, “Baiti Jannati”,”Rumahku adalah surgaku”.
Itulah contoh kecil yang diajarkan dengan cara praktek (bil hal) oleh kakekku. Sebagai penjabaran kata “kharisun” (empati) dari sifat mulia Rosul, sebagaimana firman Alloh dalam surat at Taubah :
- sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.
Aku juga belajar keimanan tanggung jawab dan disiplin..
Lima waktu, selalu aku dicari untuk sholat berjamaah, walau saat itu aku belum tahu bacaan sholat. Selepas waktu asar adalah batas akhir waktu aku bermain, aku diwajibkan untuk mandi bersarung sholat asar dan menyongsong waktu maghrib.
Orang tua, kakek nenek, ayah ibu telah mengajariku tentang kewajiban ibadah, tentang ketaatan pada Alloh yang tak boleh ditunda dan tidak boleh dinomor duakan. Mereka mengajarkan ketaatan dan cinta sejak aku balita. Agar terpatri sabagai ketaatan dan cinta sejati. Ketaatan dan kecintaan pada Alloh dan Rosulnya.
Pepatah arap mengatakan,
إِنْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقًا لأَطَعْتَهُ
إِنَّ المُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطِيْعُ
“Bila cintamu sejati, maka engkau akan mentaatinya.
Sesungguhnya orang yang cinta itu sangat mentaati yang dicintainya.”
Kini setelah dewasa, rasa cinta dan ketaatan yang ditanam para orang tua, kakek nenek, ayah ibu, paman bibi, para asatidz semakin bergelora dan semoga Alloh terus mengokohkannya..
Aku berharab ibadahku kini seperti yang terucap oleh Ali bin Al-Muwaffawaq :
“Ya Allah, jika Kau mengetahui bahwa aku menyembah-Mu karena takut terhadap neraka-mu, maka siksalah aku.
Jika Kau mengetahui bahwa aku menyembah-Mu karena mencintai dan merindukan surga-Mu, maka laranglah aku dari surga-Mu itu.
Namun, jika Kau mengetahui bahwa aku menyembah-Mu karena mencintai-Mu dan merindukan wajah-Mu, maka selamatkan aku dengan cinta-Mu dan lakukan apapun yang kau kehendaki terhadap diriku.”
Dan juga demikian halnya seperti wanita suci, Rabi’ah yang menyenandungkan syairnya :
Aku mencintai-Mu dengan dua macam cinta :
cinta asmara dan cinta karena Kau memang berhak dicintai.
Adapun cinta asmara, aku hanya sibuk mengingat-Mu hingga kulupa selain Diri-Mu.
Sedangkan cinta karena Kau memang berhak dicintai, Kau singkapkan tirai untukku hingga aku mampu menatap-Mu.
Maka, tiada pujianku terhadap apapun. Namun hanya untuk-Mu pujianku.
Alangkah indahnya bila setiap insan terpapar cinta Alloh dan rosulnya. Mungkin tidak akan ada perang, tidak akan ada fitnah, tidak akan ada tipu daya, tidak akan ada caci maki dan tidak ada keburukan dan tidak ada kesusahan. Semoga kita dimudahkan meniti jalan menuju taat dan cinta kepada Alloh dan Rosulnya.
Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :
إن لله مائة رحمة أنزل منها رحمة واحدة بين الجن والإنس والبهائم والهوام، فيها يتعاطفون، وبها يتراحمون، وبها تعطف الوحش على ولدها، وأخر الله تسعا وتسعين رحمة يرحم بها عباده يوم القيامة
“Sesungguhnya Allah memiliki 100 rahmat. Salah satu di antaranya diturunkannya kepada kaum jin, manusia, hewan, dan tetumbuhan. Dengan rahmat itulah mereka saling berbelas kasih dan menyayangi. Dengannya pula binatang liar mengasihi anaknya. Dan Allah mengakhirkan 99 rahmat untuk Dia curahkan kepada hamba-hamba-Nya pada hari kiamat.”(Muttafaq ‘alaih; dalam Shahih Bukhari no. 6104 dan Shahih Muslim no. 2725; lafal hadits ini dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
Semoga Alloh memasukkan kita dalam golongan/kaum yang saling mencintai sebagaimana firmanNya dalam surat Al Maidah :
•
- Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.
Setelah sholat jumat, kulangkahkan kaki ke belakang masjid, kutuju bangunan tertinggi diantara pusara. Ya … itulah pusara kakekku. Murobbiku yang membimbing kepada cinta kepada Alloh dan Rosulnya.
Di depan pusara tanpa bunga, kupanjatkan doa penuh cinta. Sebagai pengganti hiasan bunga yang mungkin bertahan hanya sehari saja.
Doa cintaku sepanjang masa dan seluas samudra, juga kutujukan untuk semua orang tua dan para guru pembina.
Yang telah mengajarkan cinta Alloh dan Rosul yang suci, kepada putra putri dan para santri. Agar selalu dinaungi rahmat dan ridho ilahi Robbi.
Aamiin